Sabtu, 14 Mei 2011

Air Mata Guru akibat Ujian Nasional

oleh: Ign. Taat Ujianto
Kanal: Opini

3 tahun terakhir, setiap kali menghadapi Ujian Nasional (UN), luka hatiku tak pernah tersembuhkan. Tak hentinya aku mengutuki kebijakan UN yang menjadi syarat kelulusan. Aku ndak pernah muluk dalam memandang UN. Tak perlu dengan teori dan pendapat pakar pendidikan. Di depan mata, aku sudah disuguhi pemandangan bagaimana porak-porandanya hakekat pendidikan.

Di sekolahanku, mayoritas pelajar berkemampuan sedang ke bawah. Ada beberapa anak ABK (Anak berkebutuhan khusus) seperti slow learner dan hiperaktif. Dalam kondisi apa adanya, jelas mereka tidak akan mungkin lulus UN. Dan, akibat kebijakan itu, setiap UN, sejumlah guru, orang tua, dan siswa membuat strategi dan skenario pengerjaan soal UN.
"Kerjasama" gila ini tak lain dan tak bukan adalah upaya manipulasi.

Yang membuat aku miris adalah, anak-anak peserta UN, jelas belum bisa membedakan batasan "baik dan buruk" atas suatu tindakan. Tetapi mereka dilatih" untuk canggih memanipulasi (mencontek, menyebarkan ke peserta secara rapi, hingga mengubah nilai sekolah). Gerakannya cukup rapi.

Skenario tahun ini, mengingat ada 5 paket (model) soal, maka agak lebih rumit proses "pembocoran" soal. Sebagian siswa "pintar" yang paket soalnya sama telah dipesan para orang tua untuk membantu anak orang tua tersebut. Orang tua yang anaknya "kurang", datang langsung ke sekolahan. Pagi-pagi sudah mendatangi anak pintar pesanan itu,
menjamu dengan makanan, dan seterusnya. "Ada udang di balik bakwan" maka sikap orang tua ini sangat mencolok "berbuat baik" pada anak pesanan itu.

Trik lain, di tahun lalu, ada guru yang gerilya mendapatkan soal. Dibuatkan jawaban. (proses ini bergerak sangat cepat, dalam 30 menit, soal didapat, dan dikerjakan guru). Jawaban dituliskan dalam penghapus yang bisa dibuka dan ditutup. Penulisan jawaban di penghapus tersebut dilakukan oleh para orang tua siswa. Mereka biasanya akan bersiap di WC. Kemudian secara bergantian, peserta Ujian akan ke WC mengambil jawaban soal yang sudah disiapkan tersebut.

Secara garis besar, trik di atas cukup "mujarab" setiap mau mensukseskan UN. Aku yakin mayoritas/semua sekolah yang kemampuannya anak-anaknya sedang ke bawah (bukan anak-anak pilihan) kujamin melakukan praktek "Manipulasi berjamaah".

Dan aku makin marah dan jengkel.

Kemarin aku menendang tempat sampah hingga pecah ketika diminta kepala sekolah harus mengubah nilai sekolah dengan "menaikkan nilai siswa yang masih di bawah 6,5 menjadi 7,6". Konon perintah perubahan ini langsung disarankan oleh kepala suku dinas Jakarta Pusat. Untuk mengerjakan perintah Kepsek itu, mudah bagi saya. Tapi prinsip yang dilanggar membuat aku ndak bisa menahan diri. Saat mengerjakan dengan berat hati, tiba-tiba listrik padam. Maka meledaklah magma dadaku, serta merta, tempat sampah jadi korban.

Pemandangan memanipulasi dan belajar manipulasi begitu vulgar dalam dunia pendidikan. Bagaimana mungkin Korupsi bisa dihapus di negeri ini? Dari SMP sudah diajarkan untuk manipulasi. Bisa jadi di hati anak-anak tumbuh pmakluman dan di masa depan akan berprinsip "Dalam kondisi terdesak, dalam kondisi untuk mencapai sukses, manipulasi diperbolehkan. Lihat saja, para pendidik aja mengajarkan demikian?".

Batasan mana yang baik adalah baik, dan buruk adalah buruk menjadi tidak ada dan kabur. Demikian juga generasi yang lahir dari konsep pendidikan semacam ini. Maka, selamat ambruk dan bobroklah Indonesia.....

Ada keinginan untuk bongkar praktek semacam ini,. Konsekwensinya aku akan "ditendang" Yayasan. Dari para guru, mayoritas orang tidak melihat hal ini sebagai masalah prinsip. Mereka cari aman saja, "mengalir sajalah......"

Bagaimana pembaca?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar